





Berdasarkan analisis perkembangan musim kemarau pada Dasarian II Juli 2026, sebanyak 72,8% wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau. Meluasnya musim kemarau juga terlihat dari meningkatnya jumlah titik pengamatan yang mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori panjang hingga ekstrem panjang. Hasil pemantauan HTH hingga Dasarian II Juli 2026 menunjukkan kategori panjang, yaitu 21–30 hari, tercatat di 1.366 titik pengamatan, sedangkan kategori sangat panjang atau 31–60 hari tercatat di 943 titik. Sementara itu, HTH kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari terdapat di 70 titik pengamatan yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Durasi HTH terpanjang mencapai 80 hari dan tercatat di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. (sumber: www.bmkg.go.id)


Sahabat, masih ingatkah dengan wakaf air milik Utsman bin Affan?
Ketika itu, Madinah tengah menghadapi musim paceklik. Untuk membantu masyarakat Madinah dari kekeringan, Satu-satunya sumur yang ada airnya hanya sumur Raumah, milik seorang Yahudi.
Utsman bin Affan pun lantas bergegas untuk membebaskan sumur miliknya. Singkat cerita, setelah negosiasi membeli separuh bagian sumur – hingga berhasil dibeli seluruhnya, lantas Utsman bin Affan mewakafkannya untuk kebutuhan umat. Sumur itu tak hanya dimanfaatkan untuk air minum, ia juga menjadi sumber mata air lahan sekitarnya.
Hingga kini, sedekah air Utsman tersebut masih terus menghasilkan.
Masya Allah! Walau jasad tertimbun tanah, amal Ustman bin Affan terus mengalir hingga kini.

Air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup di muka bumi. Kebutuhan hidup terhadap air tidak tergantikan oleh apapun, hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan air di semua aspek kehidupan makhluk hidup, baik tumbuhan, hewan dan manusia.
Sahabat, tahukah kamu? Masih banyak Pesantren, Masjid, dan pemukiman masyarakat yang kebutuhan air bersihnya tak bisa terpenuhi, mereka hidup dalam keprihatinan dan harus mengeluarkan biaya air untuk minum dan kebersihan dengan jumlah yang tidak sedikit. Apalagi di daerah yang rawan kekeringan; air bersih terasa seperti barang langka yang harus dihemat sangat keberadaannya. Para pakar menyebut, saat ini ada sekitar 30% wilayah di Indonesia yang berpotensi mengalami kekeringan. Innalillahi.

Kesempatan langka karena terdapat keutamaan yang besar dari pengadaan air bersih ini ini. Berbagai riwayat hadits menyebutkan keutamaan bersedekah air. Suatu saat Sa’ad mendatangi Nabi Saw dan bertanya; ‘Sedekah apa yang paling mengagumkan kepadamu?’ Nabi Saw menjawab; ‘Sedekah air.’ (HR Abu Daud)
Pada program ini kami Yayasan Ruang Baik Bersama akan fokus pada program pengadaan sarana air bersih dalam bentuk pembuatan sumur gali, pipanisasi, pembuatan penampungan, dan pengeboran sumur.

Dari Jabir, dia berkata; Barangsiapa menggali air, maka tiada meminum darinya mahluk hidup dari bangsa jin, manusia, dan burung kecuali Allah akan memberinya pahala di hari kiamat.
(HR. Bukhari Muslim)

Ini merupakan kesempatan terbaik untuk anda mendapatkan aliran pahala dari setiap tetes air yang mengalir.
Sebagaimana Rasulullah bersabda :
“Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal dunia, apakah boleh aku bersedekah atas namanya?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Iya, boleh.” Sa’ad bertanya lagi, “Lalu sedekah apa yang paling afdal?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Memberi minum air.”
(HR. An-Nasai)
Mari Sobat Baik, mudahkan urusan para santri dan masyarakat yang kesulitan untuk penuhi kebutuhan airnya. InsyaAllah akan menjadi amal jariyah untuk sobat baik semua.
“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. (HR. Muslim)
Mari cari pahala jariyah dengan bangun sumur dan berbagi air bersih di wilayah yang membutuhkan :
Insya Allah menjadi pahala jariyah dan membukakan pintu rezeki yang lebih besar lagi. Aamiin.
Salam,
Ruang Baik